Cerita terbaru

Cerita Kisah Aku dan Pacar KawanKu



NAFSUMALAM.COM -
Ini adalah cerita pengalamanku ketika aku baru saja menjadi mahasiswi, aku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta, disana aku berkenalan dengan Renata. Mahasiswi seangkatanku juga, orangnya biasa-biasa saja. Dengan tinggi 165/50, rambut hitam sebahu, kulit putih, ceria, dan rada sedikit tomboy dalam penampilannya, karena Renata berasal dari daerah, maka dia kost tidak jauh dari kampus.

Beberapa kali Renata mengajakku untuk main ketempat kostnya, tetapi aku menolaknya dengan halus karena memang aku tidak sempat. Hingga siang hari itu seusai kuliah. Renata kembali mengajakku untuk bermain ketempat kostnya, dan entah kenapa.

Hari itu aku mengiyakan ajakan Renata itu, mungkin karena akupun sedang bete di rumah dan kebetulan juga aku tidak membawa mobil. Sehingga rada malas juga pakai taxi, kamipun berjalan dari kampus ke tempat kost Renata. Tidak jauh sih. Tapi harus melewati gang-gang sempit.

Akhirnya kami tiba ditempat kost Renata, menurutku tempatnya tidak terlalu bagus karena hanya merupakan bangunan semi permanen.

Terdiri dari beberapa kamar kost. Dan kamar Renata terletak dilantai dua bersama 3 kamar lainnya, tidak terlalu besar kamar Renata itu.

Dan di dalam kamar hanya ada sebuah ranjang yang cukup untuk 2 orang. Sebuah lemari pakaian, meja belajar, TV 14 inch, dan ada dvd serta stereo kaset, dan sebuah kipas angin yang ketika dinyalakan. Cukup berisik suaranya.

Setiba di dalam kamar Renata, akupun langsung duduk di tepian ranjang.
“Sorry Mbak. Kamarku berantakan” seru Renata sembari membuka lemari pakaiannya.

“Ah. Lumayan juga Ren. Cuman rada panas yaa” jawabku.
“Memang. Panas banget.” sahut Renata.
“Sorry.. Aku ganti baju dulu yaa” sambungnya lagi.

Lalu Renata membelakangiku. Melepas t-shirtnya. Lalu celana jeansnya. Tampak bra dan CD Renata yang berwarna hitam itu. Lalu Renata melepas branya.

Sehingga aku dapat melihat punggung Renata yang mulus itu. Lalu ia mengenakan dasternya. Warna merah dengan motif bunga, tanpa lengan tapi cukup pendek menurutku.

Karena ketika Renata membungkuk untuk mengambil bra-nya yang terjatuh dilantai. Tampak celana dalam Renata dari belakang, kemudian Renata menarik kursi dan duduk dihadapanku. Dengan kedua kaki diangkat ketepian kursinya dan dalam posisi mengangkang, sehingga kelihatan jelas celana dalamnya itu, aku hanya tersenyum saja melihat itu.
“Sorry yaa.. Aku duduk begini” seru Renata.

“Kita kan sama-sama cewek.” sambungnya lagi.
“Enggak apa-apa kok wen” sahutku, lalu mataku tertuju ke sebuah bingkai foto yang terletak diatas meja belajar Renata.
“Foto siapa tuh wen?” seruku, lalu Renata mengambil bingkai foto itu dan menyerahkan padaku.
“Cowokku” sahutnya.
Aku memperhatikan foto cowok Renata itu, tidak terlalu ganteng. Bahkan rada berumur, lalu.
“Namanya siapa wen?” tanyaku.
“Mas Rudi”
“Berapa umurnya?”
“30 tahun..” sahut Renata.
“Kerja?”
“Iya. Pegawai negeri”
“Sudah lama kamu jalan sama dia?”
“Baru satu tahun”
“Tinggal dimana.?”
“Enggak jauh kok”
“Sering dong dia main ke sini?”
“Mhmm. Seringlah” sahut Renata.
Akupun tersenyum sembari mengembalikan foto itu pada Renata, tiba-tiba.. tok.. tok.. tok.. ada yang mengetuk pintu kamar.
“Wah umur panjang nih orang..” seru Renata.
Lalu ia bangkit berdiri dan membukakan pintu, tampak seorang pria berdiri di ambang pintu. Ternyata dia adalah cowok Renata itu.

“Hai Mas..” sambut Renata manja sembari memeluk dan mengecup bibir Mas Rudi
“Mas.. Kenalin temanku. Santi” seru Renata.
Akupun mengulurkan tanganku dan dijabat erat oleh Mas Rudi, rada risih juga sih. Karena tampak tatapan mata Mas Rudi yang tajam..
“Rudi..” sahutnya.
Lalu kami pun mengobrol bertiga di dalam kamar itu, Rudi dan Renata duduk di tepian ranjang sementara aku duduk dikursi, dan ternyata Mas Rudi itu enak diajak ngobrol. Orangnya humoris, cukup wibawa hanya saja matanya selalu mencuri-curi pandang ke arahku, cuman yang membuat aku merasa risih. Melihat tingkah laku mereka.
Karena tidak jarang Mas Rudi dalam candanya memegang paha dan mencolek buah dada Renata, sementara Renata hanya mengeliat saja tanpa usaha mencegahnya, bahkan ketika Renata sedang membungkuk untuk mengambil handuk yang terjatuh dilantai. dengan seenaknya Mas Rudi mengulurkan tangannya memegang selangkangan Renata dari belakang.
“Auuh..” jerit Renata.
Tetapi dia membiarkan tangan Mas Rudi itu meraba selangkangannya dari belakang, lalu Renata membalikkan tubuhnya dan.
“Nakal yaa Mas. enggak enak tuh dilihat Mbak Santi..” seru Renata manja.
“Hehehe.” Mas Rudi hanya cengegesan saja.
“Oh iya. Mau pada minum apa nih?” seru Renata.
“Seperti biasalah” sahut Mas Rudi.
“Mbak Santi.. Mau minum apa?” tawar Renata.
“Mhmm.. Teh botol aja deh” sahutku.
Lalu Renata keluar kamar. Mungkin mau memesan minum, kini tinggal aku dan Mas Rudi dalam kamar itu. Mas Rudi memandangiku terus. Dan aku merasa risih dipandangin demikian.
“Sudah punya pacar belum?” tanyanya tiba-tiba.
“Belum Mas..” sahutku polos.
“Kok cantik-cantik gini belum punya pacar” serunya lagi.
“Belum kepikiran Mas” sahutku diplomasi.

Lalu Renata masuk kembali ke dalam kamar, dia membawa minumanku, dan dua botol bir yang ternyata untuk Mas Rudi, gilaa. siang-siang panas gini minum bir. pikirku.
Lalu kami mengobrol lagi. Dan setelah kusadari 2 botol bir itu telah habis.. Bahkan Mas Rudi memesan lagi. Hingga aku lihat sudah lima botol tergeletak dilantai, bukan itu aja. Aku pun melihat Renata ikut-ikutan juga minum bir itu. Kini Mas Rudi tambah berani. Ia tidak sungkan-sungkan menepuk pahaku atau bahuku jika sedang ngobrol, sementara Renata cuek saja melihat itu.

Menjelang sore. suasana dalam kamar itu menjadi semakin gerah bagiku, selain udara yang memang panas. tingkah laku Mas Rudi dan Renata semakin di luar kontrol saja. Mereka tidak sungkan-sungkan berciuman di hadapanku. Bahkan dalam candanya beberapa kali Mas Rudi meremas-remas buah dada Renata sementara Renata membiarkan itu semua. Bahkan dia semakin bersikap menantang.

“Mentang-mentang ada Mbak Santi. Beraninya hanya begitu saja” seru Renata.
Merasa ditantang demikian. tiba-tiba Mas Rudi menerkam tubuh Renata sehingga tubuh Renata berada dibawahnya. Lalu dengan ganas Mas Rudi menciumi bibir dan leher Renata, Renata hanya cekikikan saja. Sementara aku. Aku merasa semakin gerah saja, apalagi ketika tangan Mas Rudi dengan leluasanya meraba-raba paha Renata hingga kepangkal pahanya.
“Ooohh.. Mas.. Uuhh..” rintih Renata.

Akupun memalingkan wajahku. melihat ketempat lain. Risih.. Tapi aku penasaran.
“Aahh. Oohh” rintih Renata lagi.
Akupun segera melirik dan yaa. ampunn.. Tampak Mas Rudi telah melorotkan daster Renata sehingga kelihatanlah kedua buah dada Renata itu yang langsung diciumi dengan ganas oleh Mas Rudi. Gilaa.. Apa yang mereka perbuat. Sementara aku hanya duduk menonton saja. Melihat keganasan Mas Rudi dan mendengar rintihan-rintihan Renata. Akupun mulai terangsang.
Tiba-tiba Mas Rudi menghentikan ciumannya lalu ia melepas daster Renata itu. Dan menarik lepas celana dalam Renata. Kini Renata sudah benar-benar telanjang bulat.
“Sabar Mas.. Sabar. Ada Mbak Santi loh” rintih Renata.
“Biarin” sahut Mas Rudi sembari terus menciumi payudara Renata, tampak Mas Rudi mulai menciumi perut Renata. Terus ke bawah dan akhirnya berhenti diantara kedua paha Renata yang sudah terpentang lebar itu.
“Aahh. Oohh.” erang Renata panjang sembari kedua tangannya meremas-remas kepala Mas Rudi.

Merinding aku melihat adegan itu. Tapi diam-diam aku merasakan CD-ku mulai basah, beberapa kali aku menyedot teh botolku yang sebenarnya sudah habis itu, lalu tampak Mas Rudi membuka kemejanya, singletnya, lalu celana panjangnya dan celana dalamnya. Sehingga tampak batang kemaluan Mas Rudi yang sudah tegang mengeras itu. Lalu ia mengambil posisi diantara kedua paha Renata.
“Ayo.. Mas.. Ayo.” desah Renata dengan mata setengah terpejam.
“Aaakk. Ohh.” erang Renata panjang.
Tampak Mas Rudi kembali menindih tubuh Renata, kini aku menjadi benar-benar salah tingkah. Tidak terbayangkan di depan mata kepalaku sendiri ada adegan begini. Jujur saja akupun mulai terangsang. Apalagi ketika melihat gerakan erotis pinggul Mas Rudi yang naik turun itu. Sementara Renata hanya mengeliat-ngliat dengan suara rintihan nikmat keluar dari mulutnya.
Aku sepertinya dianggap tidak ada oleh mereka. Gilaa. Aku ingin keluar dari kamar itu, tapi penasaran. Lalu tampak Mas Rudi menyuruh Renata untuk menungging. Dan dengan posisi dog style.. kembali Mas Rudi memasukkan batang kemaluannya ke dalam vagina Renata. Dari posisi ini aku dapat melihat batang kemaluan Mas Rudi yang keluar-masuk liang kemaluan Renata.
“Ooh. Terus.. Mas.. Teruss.. Ahh” erang Renata, Mas Rudi tampak bergerak seperti mesin saja enggak capek-capek. Sementara Renata mengerang-ngerang keenakan. Ooohh. Pusing kepalaku melihat itu. Kemudian tampak Mas Rudi menjilat jari telunjuknya sendiri dan. Ditusukkannya telunjuknya itu ke dalam lobang anus Renata.
“Aaahh. Iyaa.. Iyaa.. Oohh” rintih Renata lagi.
Beberapa kali aku menelan air liurku. Dan akupun mulai gelisah. tiba-tiba..
“Aaaghhkk.. Aku keluar.. Aku keluar maass” Renata mengerang panjang. Tampak tubuh bergetar-getar.
“Cepat sekali kau keluar Ren.” seru Mas Rudi sembari mencabut batang kemaluannya.
“Ooh.. Enak.. Mass.. Enak..” desis Renata.
“Dimasukin ke sini yaa.” seru Mas Rudi sembari mencobloskan telunjuknya dalam-dalam ke dalam lobang anus Renata. Tampak tubuh Renata tersentak kedepan.
“Sudah.. Mas.. sudah. jangan.” sahut Renata sembari menjatuhkan tubuhnya telungkup, tampak batang kemaluan Mas Rudi yang masih tegang menantang itu.
“Sama Mbak Santi aja Mass” seru Renata lagi..

Apa.. Aku terkejut mendengar itu, sudah gila.. kawanku ini. Seruku dalam hati. Dan benar saja. Mas Rudi menoleh ke arahku. Aku jadi salah tingkah.
“Hehehe. Ayo Santi. Ikutan”
Serunya sembari cengegesan. Aku hanya diam saja sembari berusaha menguasai diri. Lalu Mas Rudi turun dari ranjang dan berjalan ke arahku. Berdegup keras jantungku.. Demi melihat batang kemaluan Mas Rudi yang terayun-ayun.. Mendekat ke arahku.
“Tidak Mas. Terima kasih” sahutku sembari berusaha tersenyum.
“Aahh. Ayolah” seru Mas Rudi.
Sembari mengarahkan batang kemaluannya ke mukaku. Gilaa. Jujur.. saat itu aku masih virgin. Belum pernah disentuh laki-laki. Dan kini.. dihadapanku tampak batang kemaluan Mas Rudi yang besar itu dan. adegan tadi. membuat pikiranku kacau. Tiba-tiba Mas Rudi memegang kepalaku dan menekan kepalaku ke arah batang kemaluannya sehingga tubuhku rada membungkuk kedepan. Haa. Gilaa.
Tapi. Segera saja tercium aroma batang kemaluan Mas Rudi itu bercampur dengan aroma vagina Renata. Aku hanya diam saja ketika kepala penis Mas Rudi menyentuh pipiku. Lalu Mas Rudi menggosok-gosokan kepala penisnya itu ke bibirku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi disisi lain akupun ingin. Oohh. Tanpa sadar aku menjulurkan lidahku hingga menyentuh ujung batang kemaluan Mas Rudi.. Aahh.. Terasa asin.
“Yaa.. Betul Santi.. Jilatin. Yaa.. Begitu.” seru Mas Rudi.
Ketika aku mulai menjilati kepala batang kemaluannya. Lalu.
“Buka mulut kamu Santi. Hisap.. Hisapin Santi..” seru Mas Rudi lagi.

Entah kenapa aku menurut saja. Akupun membuka mulutku dan membiarkan batang kemaluan Mas Rudi masuk. Tetapi aku tidak tahu harus berbuat apa setelah itu.
“Dikulum.. Santi.. Dikulum..” seru Mas Rudi lagi.
Akupun menurut. Kukulum batang kemaluan Mas Rudi itu. Dan itu membuat Mas Rudi kekenakan.
“Aahh.. Yaa.. Begitu..” erangnya.
Dan perlahan-lahan dia mengerakkan pinggulnya maju mundur. Sehingga batang kemaluannya pun keluar-masuk mulutku. Lama kelamaan. Akupun mulai menikmati itu. Dan membiarkan tangan Mas Rudi menarik t-shirtku hingga terlepas. Lalu ia melepas bra ku dan melemparnya. Sehingga tampak payudaraku yang segera diremas-remas oleh kedua tangan Mas Rudi.
Kini aku menjadi pasrah.. Dan seperti robot saja aku menurut ketika disuruh berdiri dan Mas Rudi melepas celana jeansku. Lalu melorotkan celana dalamku. Hingga akhirnya aku berdiri sama-sama bugil di hadapan Mas Rudi. Lalu Mas Rudi segera melumat bibirku. Aku pun membiarkan lidah Mas Rudi menari-nari di dalam mulutku..
“Ooh.. Aahh..” aku mendesah nikmat. Membiarkan Mas Rudi menciumi dan menjilati leherku dan terus turun ke dada dan aku mengigil hebat ketika kedua puting payudaraku dihisap-hisap oleh Mas Rudi bergantian.
“Ooh.. Aakk.” desisku, aku mengelinjang ketika terasa telapak tangan Mas Rudi menyentuh vaginaku. Dan dengan lembutnya mengosok-gosok clitorisku.
“Ooh.. Mas.. Oohh.. Aahh” desisku, terasa benar kemaluanku sudah banjir. Tapi.
“Aaakk..” aku menjerit sakit ketika Mas Rudi menusukan jarinya ke dalam liang vaginaku..
“Kamu masih perawan yaa” seru Mas Rudi.
“Ngkk.. Iya.. Nggkk.. Iya Mas..” sahutku pelan, tampak Mas Rudi tersenyum lalu.
“Nggkk.. Oohh..”
Bergetar tubuhku ketika jari-jari Mas Rudi mempermainkan clitorisku lagi. Akupun memejamkan mataku merasakan nikmat, lalu Mas Rudi membimbingku ke arah ranjang. Tampak di atas ranjang tubuh Renata yang telanjang. telungkup diatas ranjang. Aku tidak tahu apakah Renata tertidur atau tidak.

Aku menurut saja ketika Mas Rudi menyuruhku menungging. Sementara dia duduk berlutut dibelakang bokongku. Aku menanti dengan tegang. Ketika..
“Aak.. Ohh..” terasa lidah Mas Rudi menyapu vaginaku, akupun hanya bisa menggelinjang keenakan.
Baru kali ini aku merasakan vaginaku di oral oleh seorang laki-laki, cukup lama lidah Mas Rudi mempermainkan klitorisku. Ohh. Nikmat sekali. Tubuhku tersentak. ketika terasa lidah Mas Rudi menari-nari diatas anusku.
“Oohh.” geli tapi nikmat. Apalagi ketika ujung lidahnya ditusuk-tusukkan ke dalam anusku. Aku hanya bisa meremas-remas sprei saja menahan nikmat, aku menoleh ke arah Renata.. Tampak dia diam saja. Rupanya Renata sedang tertidur. tiba-tiba aku merasakan kepala batang kemaluan Mas Rudi digosok-gosok ke vaginaku. Akupun sadar..
“Jangan.. Mas.. Jangan dimasukin.” seruku.
“Hehehe. O iya.. Kamu kan masih perawan..” seru Mas Rudi.
Tiba-tiba Mas Rudi turun dari ranjang dan menuju ke lemari pakaian Renata, aku tetap dalam posisi menungging. Tampak olehku Mas Rudi mengambil sebuah botol.. Dan menuangkan cairan dari dalam botol dan dilumurinya ke seluruh batang kemaluannya itu.
Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Mas Rudi. Lalu dia kembali mengambil posisi di belakang pantatku. Terasa ada cairan dingin. Melumuri anusku. Lalu terasa jari Mas Rudi mengolesi cairan itu disekitar anusku.. Dan.
“Aakk.. Oohh”
Aku tersentak kaget ketika Mas Rudi mencobloskan jarinya ke dalam duburku. Terasa risih.. Geli. Tapi nikmat. Kini aku sadar kalau Mas Rudi mau menyodomi aku. Aku tidak tahu bagaimana rasanya. Tetapi kalau melihat dalam film bokep. Kayaknya nikmat juga. Akupun menanti dengan tegang. Terasa Mas Rudi memasukkan satu jarinya. Terus dua jari.
Aku merasa geli. Tapi sedikit mules juga.. Ketika jari-jari Mas Rudi mencolok-colok anusku. Lalu Mas Rudi mulai menempelkan ujung batang kemaluannya ke anusku.. Dan menekan secara perlahan-lahan.

“Oooh. Nggkk. Aaakk.” aku merintih karena terasa nyeri di sekitar anusku itu.
“Stopp.. Stopp. Mass.. Sakit.” erangku.
Mas Rudi segera menghentikan gerakannya. Lalu ia menyuruh kedua tanganku ke belakang untuk membuka belahan pantatku. Aku menurutinya. Dan terasa batang kemaluan Mas Rudi mendesak perlahan ke dalam anusku. Aku hanya meringis menahan nyeri dan panas di sekitar anusku.
“Tenang Santi.. Tenang. Jangan tegang.” seru Mas Rudi, akupun melemaskan otot-otot anusku.
Lalu. Bless. Aku merasakan batang kemaluan Mas Rudi menerobos masuk ke dalam. Ooohh. Terasa ada sesuatu yang masuk hingga ke dalam perutku. Dan seketika aku merasa mules. Ketika Mas Rudi mulai menarik perlahan-lahan batang kemaluannya dan menekan lagi.
“Ooh. sudah.. Mas.. sudah muless.. Nihh..” rintihku.
Tetapi Mas Rudi tidak menghiraukan rintihanku itu. Semakin lama dia semakin cepat mengerak-gerakkan batang kemaluannya keluar masuk lobang pantatku. Aku hanya meringis saja tidak merasakan nikmat. Tapi mules. Tiba-tiba Renata terbangun.. Rupanya ia terganggu. Karena goyangan ranjangnya. Ia menoleh padaku dan tersenyum.
“Mbak Santi. Enak kan Mbak.” serunya, aku tidak menjawab tapi hanya bisa meringis saja. Lalu Renata duduk berlutut disampingku.
“Ayoo.. Mas.. Keluarin.. Mas.” seru Renata.
Gilaa. Renata malah mensupport cowoknya untuk menyodomi aku di hadapannya. Mendapat support dari Renata, Mas Rudi semakin mempercepat gerakkannya. Lalu..
“Aku mau Mass.” seru Renata manja.
“Aahh.. Ngkk.. Nungging sana.” seru Mas Rudi.
Lalu Renata menungging di sampingku. Aku tidak tahu apa yang dilakukan Mas Rudi terhadap Renata. Sebab tampak wajah Renata meringis-ringis keenakan sementara Mas Rudi masih terus memompa batang kemaluannya di dalam anusku. Pegal juga tanganku ke belakang. Lalu aku meluruskan kedua tanganku ke depan menahan tubuhku.
Sehingga posisiku merangkak. Kini aku mulai merasakan nikmat. Dan rasa mules itu sudah mulai berkurang, dalam hatiku. Luar biasa Mas Rudi ini. Belum keluar-keluar juga. Lalu ia menghentikan gerakannya dan mencabut batang kemaluannya dari anusku. Ooohh. Lalu Mas Rudi bergeser dan.
“Aaakk.. Oohh.. Uuuhh.” Renata mengerang, rupanya gantian Mas Rudi memasukan batang kemaluannya ke dalam vagina Renata. Tampak tubuh Renata bergunjang-gunjang mengikuti irama gerakan Mas Rudi. Sementara aku masih tetap dalam posisiku.
Karena terasa nikmat tangan Mas Rudi yang terus mengosok-gosok clitorisku. Tanpa kusadari tubuhku sudah bermandi peluh. Demikian juga dengan Renata. Terdengar nafas Renata yang semakin memburu.. Dan akhirnya.

“Aaarrgghh. Aaahh.” Mas Rudi mengerang panjang. Rupanya dia sudah mencapai klimaks dan menyemburkan air maninya di dalam vagina Renata setelah itu Renata segera rubuh telungkup disampingku. Aku.. Aku belum mencapai klimaks. Apalagi permainan tangan Mas Rudi di clitorisku mendadak berhenti. Dan diapun rubuh menindih tubuh Renata dari belakang. Kini aku yang kelabakan.
Akupun telentang di samping mereka berdua. Masih terasa nyeri di anusku. Tapi aku tidak peduli karena sudah kepalang. Akupun bermasturbasi dengan tanganku. Ooh.. Ahh. Aku merintih-rintih sendiri. Semakin cepat jari-jariku mengosok-gosok clitorisku. Sementara tangan kiriku meremas-remas payudaraku sendiri. Ohh. Aahh.. Nnggkk. Mas Rudi. Menoleh padaku.. Dan dia tersenyum melihat aku yang sedang bermasturbasi itu.
Aku tidak peduli. Bahkan aku tambah bergairah dilihat oleh Mas Rudi. Dengan mata setengah terpejam aku menoleh pada Mas Rudi. Dalam hati aku mengharapkan bantuan Mas Rudi. Rupanya Mas Rudi mengerti. Lalu dia mencium payudaraku sebelah kanan dan lidahnya mempermainkan puting payudaraku itu.
Oohh. Uuuhh.. Aaahh. Tubuhku mengelinjang dan bergetar hebat. Ketika aku mancapai klimaks. Oohh. Rintihku dan kedua pahaku kurapatkan erat. Dan telapak tanganku seketika basah oleh cairan vaginaku, seketika tubuhku menjadi lemas.
“Ooh.. Terima kasih.. Mas” seruku pelan dengan nafas memburu, Mas Rudi tersenyum saja dan akhirnya aku tertidur.
Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur. Ketika terbangun.. Tampak hari sudah gelap, aku menoleh ke samping, tampak Mas Rudi sudah tidak ada. Rupanya dia sudah pergi, dan aku hanya melihat Renata yang masih tertidur disampingku. Masih dalam keadaan telanjang sama sepertiku.
Aku berusaha turun dari ranjang. Aaakk.. Terasa nyeri di sekitar anusku. Lalu aku mengambil handuk dan mengelap tubuhku yang bermandikan keringat itu. Ketika aku menyalakan lampu. Renata pun terbangun.
“Baru bangun Mbak..” serunya.
“Iya.. Mas Rudi kemana?” tanyaku.
“Pasti sudah pulang tuh” sahut Renata.
“Ren..”
“Mhmm”
“Apa yang terjadi tadi. Kamu enggak marah?” tanyaku.
“Enggak kok Mbak. Mbak Santi enggak marah kan?” tanyanya balik.
Aku hanya diam saja. Tampak Renata tersenyum. Akupun ikut tersenyum. Sejak kejadian itu, aku sering main ketempat kost Renata. Dan beberapa kali kami main bertiga, karena Mas Rudi. Aku jadi benar-benar bisa menikmati anal sex. Aku salut pada Mas Rudi yang tidak mau memperawaniku.
Hingga akhirnya di semester 2.. Renata harus berhenti kuliah dan kembali ke daerah asalnya. Dan Mas Rudi akhirnya menjadi pacarku. Ternyata Mas Rudi seorang maniac sex. Dan apa saja yang kami lakukan berdua. Nanti akan aku ceritakan dalam ceritaku selanjutnya.